Minggu, 08 Februari 2015

Impor Telah Merusak Jati Diri Bangsa

     Besarnya kekayaan alam Indonesia seakan tidak bermanfaat untuk warga . Indonesia tak dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri. Impor selalu sebagai langkah pemerintah seakan tak mau susah.

     Kegelisahan ketergantungan pada pihak asing selalu sebagai kekhawatiran masyarakat. Pasalnya, Indonesia masih sering mengikuti dan mendengarkan negara-negara asing yang mengamankan kepentingannya setiap menghadapi perkara.

     "Bangsa Indonesia saat ini alami kekurangan kedaulatan. Lihat saja akhir-akhir ini kita didikte kepentingan asing mengenai bagaimana cara menjalankan demokrasi, bagaimana cara melaksanakan HAM, dan didikte ketika kita mengelola kekayaan alam, bahkan model pemimpin pun didikte," ujar ketua lembaga Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), Suryo Susilo.

     Suryo menilai, pemerintah gak perlu mendengar segala masukan dari bangsa lain dalam mengerjakan roda pemerintahan atau merampungkan suatu perkara. Karena, negeri ini memiliki kemampuan menurut karakter kebangsaan.

     " masysarakat Indonesia mengerti demokrasi, HAM, bahkan kita dapat mengelola asal daya alam kita sendiri," ungkap beliau.

     Ambil contoh ketidakberdayaan Indonesia dalam rapikan kelola langit. Waktu itu, pengaturan lalu lintas udara atau Air Traffic System Provider (ATS) masih berada pada bawah kendali negara Singapura. Sejak tahun 1996, Indonesia telah menyerahkan wewenang ATS pada Singapura karena waktu itu Indonesia belum bisa menyelenggarakan ATS sendiri.

     Mantan kepala Staf TNI AU, Marsekal (purn) Chappy Hakim pernah mengkritisi kasus ini. Lewat website pribadinya Chappy menulis persoalan ini.

     "Indonesia seharusnya menjadi negara yang jauh lebih besar dengan bertindak menjadi negara yang memiliki otoritas pengaturan udara pada atas negara- negara mini   pada sekitarnya, bukan kebalikannya," tulis pensiunan bintang jenderal empat ini.

     Chappy juga mempertanyakan motif Singapura yang mempertahankan meninggal-matian pengaturan ATS ini. Chappy menduga terdapat kepentingan militer di baliknya.

     Perkara soal kedaulatan ini jua pernah dikeluhkan Tentara Nasional Indonesia AU. Saat itu Panglima Komando Operasi Tentara Nasional Indonesia AU I, Marsekal Muda Tentara Nasional Indonesia Eddy Suyanto mengakui bila wilayah Batam dan sekitarnya masih mengandalkan pengaturan kemudian lintas udara dari Singapura. Seharusnya hal ini tidak terjadi sebab Indonesia harus berdaulat pada daerah udaranya sendiri.

    
Langit Indonesia merupakan satu contoh dari beberapa kemaslahatan negara yang wajib  'tunduk' pada negara lain. di luar itu terdapat produk-produk di Tanah Air yang bergantung pada negara lain seperti bangsa ini telah kehilanggan jati dirinya.

9 komentar:

  1. Awalnya impor itu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri khususnya alat2 teknologi tp karena negara kita dihuni 230 juta jiwa lebih apalg produksi pangan kita dirasa kurang makanya impor jd andalan pemerintah gan. Sayangnya pemerintah kita lebih memilih pujian asing drpd memenuhi kebutuhan kebutuhan rakyatnya sejak era reformasi. Trus mental orang2 kita juga lbh suka produk atau segala hal dr luar negeri gan meski slogannya "Cintai Produk Indonesia"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cintai produk indonesia sudah mulai kalah dgn produk luar @@

      Hapus
  2. orang indonesia gengsi nya gede mending beli barang dari luar negri padahal itu barang di buaat dari bahan bahan dari indonesia,,hadeh

    BalasHapus
  3. Thanks gan, bisa menyadarkan orang indo

    BalasHapus
  4. Cintailah produk Indonesia, pakailah produk asing. :D

    BalasHapus
  5. Ini salah satu mental kekanak-kanakan dimana apa-apa masih mau disuap gak mau berusaha memperbaiki diri sendiri

    BalasHapus
  6. shrusny impor dikurangi, dan ekspor hrus dikembangkan (Y)

    BalasHapus